Oktasari, Marini (2014) TERJADINYA ASTIGMATISMA PASCA OPERASI PTERIGIUM DITINJAU DARI KEDOKTERAN DAN ISLAM. Diploma thesis, Universitas YARSI.
Preview |
Text
S 4394 FK_COVER.pdf Download (133kB) | Preview |
Preview |
Text
S 4394 FK_SURAT PERSETUJUAN.pdf Download (133kB) | Preview |
Preview |
Text
S 4394 FK_ABSTRAK.pdf Download (127kB) | Preview |
Preview |
Text
S 4394 FK_BAB 1.pdf Download (133kB) | Preview |
Preview |
Text
S 4394 FK_DAFTAR PUSTAKA.pdf Download (182kB) | Preview |
|
Text
S 4394 FK_BAB 2.pdf Restricted to Registered users only Download (569kB) |
|
|
Text
S 4394 FK_BAB 3.pdf Restricted to Registered users only Download (328kB) |
|
|
Text
S 4394 FK_BAB 4.pdf Restricted to Registered users only Download (197kB) |
|
|
Text
S 4394 FK_BAB 5.pdf Restricted to Registered users only Download (129kB) |
Abstract
Pterigium adalah suatu jaringan yang berbentuk segitiga atau sayap pada permukaan basement membrane sebagai akibat dari pertumbuhan epitel limbus yang masuk ke kornea secara sentripetal. Pada kasus pterigium, dapat diberikan beberapa terapi termasuk salah satunya terapi pembedahan. Pembedahan merupakan tindakan yang diketahui dapat menimbulkan komplikasi. Salah satu komplikasi pasca pembedahan pterigium adalah timbulnya astigmatisma. Tujuan umum dan khusus skripsi ini adalah untuk memberikan informasi mengenai penyakit pterigium dan terjadinya astigmatisma pasca tindakan bedah pada pterigium dari sudut pandang kedokteran dan Islam. Operasi pada pterigium dilaporkan dapat memperbaiki fungsi penglihatan, menurunkan kekuatan lensa sferosilinder dan menimbulkan terjadinya astigmatisma.Terjadinya astigmatisma pasca operasi pterigium ini diduga disebabkan karena proses operasi tersebut yang ternyata menimbulkan perubahan topografi kornea. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu usia penderita, ada atau tidaknya astigmatisma sebelum dilakukan operasi dan karakteristik dari pterigium yang diderita seperti panjang pterigium, area, dan tingkat morfologi dari pterigium tersebut. Islam membolehkan terapi operasi dilakukan pada penderita pterigium karena pada dasarnya prinsip hukum Islam adalah menghilangkan atau menjauhi yang memudharatkan, membahayakan atau yang merusak. Apabila terjadi efek samping negatif akibat penatalaksanaan terapi bedah tersebut, tetapi jika kemaslahatannya tetap lebih besar daripada mudharatnya maka terapi masih diperbolehkan. Kedokteran dan Islam mempunyai pandangan yang sama mengenai terjadinya astigmatisma pasca operasi pterigium sebagai efek samping yang seminimal mungkin untuk dihindari, dalam hal ini tidak hanya teknik operasi yang aman untuk mencegah komplikasi astigmatisma tersebut, beberapa faktor lain yang dapat mempengaruhinya juga harus diperhatikan. Berdasarkan hal tersebut maka mencegah timbulnya penyakit pterigium lebih baik daripada mengobati. Skripsi ini diharapkan berguna bagi masyarakat khususnya bagi penderita pterigium yang akan menjalani operasi harus mengetahui apa dan bagaimana operasi akan dijalankan termasuk komplikasi yang akan terjadi, untuk para dokter agar memberikan informasi tentang penanganan pada penyakit pterigium, untuk umat muslim agar menjaga kesehatan mata dan segera melakukan pengobatan kepada ahlinya jika terdapat keluhan.
| Item Type: | Thesis (Diploma) |
|---|---|
| Additional Information: | S-4394-FK |
| Subjects: | B Philosophy. Psychology. Religion > BP Islam. Bahaism. Theosophy, etc L Education > L Education (General) R Medicine > RD Surgery R Medicine > RE Ophthalmology |
| Divisions: | Faculty of Engineering, Science and Mathematics > School of Chemistry |
| Depositing User: | Mr. Administrator System Admin |
| Date Deposited: | 09 Feb 2021 02:24 |
| Last Modified: | 26 Jun 2026 02:43 |
| URI: | http://digilib.yarsi.ac.id/id/eprint/3672 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
